Jangan Bodoh!


Telah berulang bilangan tahun, ketika janji diucapkan dan diyakini untuk dipegang. Aku mengenangnya, masa lalu yang kini berulang seperti angin subuh yang senantiasa berhembus perlahan dan terus menerus, menggigilkan tulang-tulangku, merapatkan tangan dengan lututku. Aku musti mengakui bahwa harapan-harapan yang begitu teguh ketika ia lahir, dihantam badai berkali-kali sampai nyaris tak bisa berdiri. Aku bertanggung jawab untuk mendekapnya, membisikkan selamat yang baginya tak ubahnya dongeng masa kecil yang hanya berguna untuk dikenang.
Aku belum benar-benar melakukannya sepenuh hati, rasa enggan melenakanku. Aku memahami dan mengerti sesuatu, tetapi sedetik kemudian hilang akal dan menjadi layaknya binatang. Bukan satu-dua kali, bukan tiga-empat kali, aku berjanji dalam sunyi dan tak sampai sehari kuingkari. Kuajak setiap jengkal tubuhku berdiskusi, menanyakan hal-hal biasa sampai rahasia-rahasia yang membikinku  terpaku. Betapa amat banyak yang tak kuketahui, betapa kebodohan adalah makananku sehari-hari.
Ketika kemudian aku masih bias tidur sambil mendengkur, sementara rumah para tetangga didatangi lumpur yang diutus Tuhan. Angin malam kuhadang dengan gorden warna putih, dan pintu kayu yang diplitur. Nyamuk-nyamuk kubius agar tak mengganggu mimpi senggamaku.
Tak belajar dari masa lalu itu dungu, kata orang berilmu. Tak belajar dari masa lalu itu kerugian yang nyaris kebangkrutan, kata orang arif. Tak belajar dari masa lalu itu… bukan aku, kataku. Aku tak mengelak, sebab berulangkali gagal tak membuatku menanggung malu. Masalah serius yang tak kunjung bias kuhentikan. Kalau kubaca firman Tuhan, atau kutau betapa pengasih Kekasihnya itu, aku menangis tersedu. Ternyata, masih ada rongga untuk mengalirkan air mata itu dari jiwaku.
Ini, ialah juga sebuah perjanjian, tak kujanjikan aku akan sanggup menepatinya, tak kuharapkan aku tak gagal lagi, aku hanya ingin terus bangkit, meski seratus kali tersungkur, meski ribuan kali langkah terhenti dan menemukan usahaku seperti sebuah kesia-siaan.

Sampai nanti, sampai mati. Jangan bodoh lagi! 

Posting Komentar

0 Komentar