Ndak Usah Khawatir, UN, Ujian, atau UNAS


UN/Ujian Nasional... Dulu.. Ketika masih duduk di bangku SD, SMP, SMA.. kalo udah denger kata-kata itu... 1- deg-deg.. 2-cemas.. 3-takut.. 4-stres(naudzilubillah).

Pagi tadi sebelum kajian "belajar praktis buku klasik" alias nahwu, ustad bercerita. Sebenarnya Ujian Nasional itu ndak usah khawatir. InsyaAlloh lulus, karena sidah bisa di bantu dari nilai sekolah.. Sudah menjadi rahasia umum.. Kalo nilai semua sudah di rubah menjadi di atas rata-rata.


Mengawali sesuatu, tapi diawal jelek maka kedepannya akan susah untuk baik. Misalnya; demi ingin mendapatkan nilai bagus untuk bisa ditrima diperguruan tinggi negri dengan cara mencari bocoran. Agar bisa lulus dengan nilai yang baik. Atau agar bisa ditrima kerja. Ijazah kuliah nilai diatas 3, padahal yang paling penting adalah softskill dan pengalaman. Baru-baru ini "Ahok" gurbernur jakarta mengeluarkan statement bahwa "lebih baik lulusan SD tapi mau bekerja" bagi mas-mas atau mbak-mbak yang kuliah jangan tersinggung.. Hehe...

Jika ada kemauan yang sunguh-sunguh, insyaAlloh kemampuan akan muncul. Syukur-syukur dianugerahi kecerdasan. Belajar ndak harus di lembaga. Dengan membaca kita akan mengetahui banyak hal. Kata pepatah "buku jendela dunia". Kata Romo Guru " revolusi iqro' , revolusi diri, dan revolusi buadaya". ; dengan membaca akan merubah diri kita, setelah diri kita berubah insyaAlloh berubah budaya kita.

Di Malaysia tidak ada yang namanya sekolah negri atau swasta. Semua sama.. Apalagi di jaman Rosululloh saw. Model pembelajarannyapun beda dengan model pembelajaran sekarang ini. Dituntut lulus dengan nilai yang baik, sedang pendidikan itu kata Romo Guru; membuat kita andhap ashor dan welas asih.

Posting Komentar

0 Komentar