Mendoakan Indonesia?




Berapa kali dalam sehari engkau mendoakan Indonesia? Apakah pertanyaanku ini mengagetkanmu, menyadarkanmu akan sesuatu, atau hanya seperti angin, berhembus dan lantas tak sempat engkau rasakan hadirnya? Barangkali karena persoalan kita masing-masing yang telah begitu banyak menumpuk, kita tak sempat mendoakan Indonesia, negeri kesayangan kita yang makin hari makin tak karuan kondisi kesehatannya. Dari berbagai penjuru Indonesia ditarik berbarengan dengan tali berduri, tercabik dan berdarah di sana sini.


Seorang Jenderal bercerita tentang kemungkinan dijadikannya Indonesia sebagai arena peperangan. Proxy War tepatnya, yaitu sebuah konfrontasi antar dua negara atau lebih yang menggunakan pemain pengganti untuk menghindari perang secara langsung yang beresiko pada kerusakan fisik bahkan kehancuran total. Negara-negara “keluwihen bondo”, yang mempunyai modal yang sangat besar tak bisa tak kemintil pada Indonesia. Proxy War yang disinggung sang Jenderal seperti bukan akan berlangsung, tetapi sudah dan sedang berlangsung.

“Bom-bom” peperangan itu telah dipasang di tempat-tempat strategis oleh Sang Berkepentingan untuk nanti pada saatnya meledak dan mereka bisa memanen apa yang mereka inginkan. “Bom-bom” itu tak lagi berbentuk bulat sedikit dan lonjong, berwarna hitam atau hijau tua dengan pemantik yang siap dicabut, tetapi telah berubah menjadi berbagai macam bentuknya; isu terorisme, gerakan sparatis, konflik antar agama, konflik antar ormas agama, yang paling gres adalah LGBT.

Betapa kita selalu dicarikan alasan untuk bertengkar sesama saudara, bahkan kadang tak segan saling bunuh hanya demi kepentingan masing-masing yang sebenarnya bukan kepentingan yang sungguh-sunguh kita cari, melainkan kepentingan yang dirancang sedemikian rupa oleh Sang Berkepentingan sehingga kita menyangka bahwa itu kepentingan kita, padahal, itu hanyalah halusinasi kita yang ditunggangi keserakahan untuk merampok kekayaan yang Indonesia miliki, berupa kekayaan fisik maupun non fisik. Persaudaran dan kesederhanaan itu kekayaan yang tak biya diukur dengan uang, nilainya jauh melebihi jutaan dollar. Tetapi sekarang , otak kita menjadi begitu mudah untuk mencurigai sesama saudara. Berfikir dengan akal sehat malah menjadikan diri kita terasing. Prasangka menjadi sumbu dengan minyak tanah menetes-netes, sekali sulut, wus, terbakar!

Mungkin sebagian besar dari kita tidak menyadari betapa gentingnya persoalan yang dihadapi oleh kekasih kita, Indonesia. Karena Sang Berkepentingan memang menghendaki demikian. Betapa mudah membunuh seseorang yang tak mengerti, seperti ketika pada segelas kopi yang kita hidangkan kepadanya telah bercampur dengan racun yang sekali teguk bisa merenggut nyawanya? Kita dibuat tidak mengerti sehingga enggan peduli pada nasib Indonesia, maka untuk sekedar berdoa saja kita melupakannya begitu saja bukan?

Kepada engkau yang prihatin kepada Indonesia, aku bertanya, kepada siapa engkau hendak meminta pertolongan, ketika setiap pintu menuju jalan keluar sudah digembok dan dijaga raksasa-raksasa rakus?

Kepada engkau yang masih tak peduli dan tak juga mengerti, mari kuajak melongok kenyataan-kenyataan yang sedang dipentaskan. Mari bersama-sama menggali pemahaman sedikit demi tentang Indonesia, membaca kembali sejarahnya, menghitung berapa luka yang pernah dimilikinya, agar cinta kita kepadanya tidak hampa dan sia-sia. Yang telah membrikan kita kehidupan yang meskipun banyak keprihatinan, tak kurang kebahagiaan yang ia berikan. Tempat kita makan dan minum, menyusu pengalaman hidup dari air susunya yang amat beraneka rasanya .

Sang Romo berkata, “Tak ada lagi yang bisa kita andalkan, orang-orang yang tadinya kita percaya, satu persatu ternyata terkuak topengnya sebagai penghianat, usaha-usaha yang kita lakukan hanya terbentur tembok-tembok, sedang dibalik tembok itu masih ada jeruji besi yang amat kokoh melingkari tempat kita berpijak. Jika sudah demikian, siapa yang hendak kita mintai pertolongan? Atau, apkah kita hanya akan diam menyaksikan Indonesia tersayang menuju kehancuran? Ingatlah, kondisi itu sudah semestinya menyadarkan kita. Bahwa, sungguh hakikatnya kita tidak mempunyai apa-apa, kita tak sanggup melakukan apa-apa. Maka serulah Sang Pemilik sejati, serulah pemilik pertolongan, serulah sambil nggembol keyakinan bahwa Alloh sajalah yang sanggup menyelesaikan keruwetan ini, tiada lain.
Saudaraku, masihkah ada alasan bagimu untuk tidak berdoa?



Posting Komentar

0 Komentar