Proyeksi Pendidikan Bangsa

Kita mesti banyak memelajari dan memahami tentang pendidikan negeri ini yang selama beberapa tahun berjalan dengan sangat stagnan. Kiranya kita perlu berubahan besar untuk kemujuan pendidikan kita.

Secara langkah, kita kalah jauh dari negara lain yang lebih inovatif dalam menjadikan sekolah sebagai sarana pencarian ilmu. Segalanya digagas dengan matang untuk masa depan bangsa. Tapi bangsa kita? Kita masih menggunakan pendidikan yang digunakan oleh Belanda ketika negara tersebut menjajah negeri kita Indonesia beberapa abad yang lalu. Kita kalah langkah sangat jauh. Bahkan setelah beberapa orang, kelompok, dan golongan mulai sadar tentang pendidikan kita yang perlu revolusi. Sampai tercipta sekolah alternatif mandiri seperti Qoryah Thoyyibah dan Waskita Islamiyah. Tanpa menunggu revolusi pemerintah yang tak kunjung tanggap soal permasalahan pendidikan negeri ini.


Dalam hal ini kita harus berkiblat pada China dan finlandia yang merubah cara belajar dengan sangat drastis. Dan hasilnya sangat luar biasa. Perubahan yang dilakukan toh pada kenyataannya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuktikan bahwa perubahan cara belajar sangat berpengaruh dalam efektifitas pembelajaran yang dilakukan.

Lantas mengapa kita tidak melakukan perubahan dengan penyesuaian kultur bangsa kita untuk efektifitas yang akan didapat. Kiranya sebuah negara tidak mungkin membentuk suatu hal apapun tanpa dasar kultur. Kesesuaian budaya dengan perubahan yang akan dilakukan. Segalanya menjadi riil ketika hal tersebut digagas dengan baik, bukan hanya menjadi wacana. Dan salah satu bukti pergerakan cepat yang dilakukan oleh Finlandia dan China sebab penyesuaian dengan kultur yang mereka miliki. 

Kita punya contoh konkrit dalam hal revolusi pendidikan. Jelas, dan nyatanya berhasil. Qoryah thoyyibah yang kini menjadi bahan permbincangan dan penelitian diberbagai negara. Nyatanya dinegeri sendiri hanya menjadi perbincangan yang tak pernah menjadi suatu bahan acuan perubahan pendidikan secara nasional. Bahkan wacana pun tidak. Sedang luar negeri sudah melakukan riset pada pendidikan alternatif yang digagas oleh Ahmad Bahruddin ini.

Pemerintah sudah terlalu sering membiarkan dan menyianyiakan potensi, khususnya potensi pendidikan. Aset-aset kita melayang begitu saja. Ada sebuah hal janggal yang seharusnya membuat kita semakin tertunduk malu untuk hal ini. Banyaknya eksportir pemuda dalam pendidikan dari negeri ini ke negara lain adalah sebuah kenyataan yang memalukan. dan nayatanya diluar, mereka menjadi orang berhasil dalam ukuran pendidikan. Semua ini tidak akan terjadi bila bangsa ini mampu memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Pun bergitu halnya dengan Qoryah Thoyyibah, mereka membuat pergerakan dengan cara pendidikan sederhana. Namun mampu melahirkan out put luar biasa. Q-Tha (Qoryah Thoyyibah) memberikan kebebasan memilih untuk seluruh siswa yang ada. Dan memberikan fasilitas yang dibutuhkan. Inti pendidikan yang terbaik adalah pendidikan yang cocok dengan apa yang diminati. Ketika saya membaca buku dari Mas Munif –penulis buku sekolahnya manusia-. Pendidikan yang –sepertinya- cocok adalah gagasan yang dikemukakan oleh Mas Munif. Pendidikanpun harus memanusiakan-manusia. Manusia punya kecenderungan tertentu yang mampu di aplikasikan menjadi sebuah potensi besar.

Setiap anak memiliki potensi berbeda. Dan dalam hal ini, Indonesia harus mampu membuat pergerakan yang mana potensi anak negeri bisa dimaksimalkan. Perubahan pendidikan sangat-sangat perlu untuk dilakukan. Bukan hanya soal UN atau tidak UN. Tapi bagaimana potensi yang ada dalam diri anak bangsa mampu dimaksimalkan. Tanpa ada penyeragaman pendidikan per individu. Sebab nyatanya bakat dan potensi anak bangsa yang berbeda malah. Sangat aneh bila ingin diselaraskan. Dan itu mustahil.

“Kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengetahuan adalah bagian dari keinginan menatap masa depan dengan sudut pandang yang lurus. Dan sekolah adalah fasilitas untuk menghasilkan out put pengetahuan dan pergerakan dalam hal pendidikan. Kalau ternyata diselewengkan oleh penggerak, betapa remuknya bangsa ini”

Salam


28 Januari 2014

Posting Komentar

0 Komentar