Pelajaran Berharga dari Tragedi Mina

Setalah tragedi jatuhnya crene di Masjidil Harom yang menewaskan ratusan orang. Kini datang satu lagi tragedi yang membuat kita harus kembali merasakan nyeri dalam hati kita. Masalahnya, bukan hanya soal nyawa yang melayang. Tapi juga soal tolok ukur egoisme umat Islam yang masih sangat-sangat-sangat tinggi.


Sudah sering dikritik oleh para Ulama tentang Ibadah haji yang seringkali mencecerkan praktik sentral dalam berislam. Persadauraan, kerukunan, ietsar dan masih banyak praktik-praktik sentral lain yang harus tergadaikan demi kepuasaan beribadah –dalam hal ini Ibadah haji, red-.

Soal Hajar Aswad, misalnya. Banyak orang “bernafsu” untuk mencium hajar aswad dan rela berdesak-desakkan, berusaha sekuat tenaga untuk menjadi yang terdepan, menyikut yang kanan, menyikat yang kiri, untuk bisa mencium batu yang dulu sahabat Umar saja enggan menciumnya, jika Rosululloh tidak menciumnya.

Kabar baiknya, sahabat Umar tidak sampai berdesak-desakkan dan menyikut saudaranya sendiri. Dan barangkali, jika kondisi saat itu seperti sekarang. Sepertinya sahabat Umar kok ndak akan sampai ngemeno untuk menyikut saudaranya demi mencium batu itu. Masih banyak alternatif lain yang bisa dijalankan untuk mengikuti jejak Rosulullah dalam “bertuhan”.

Jadi apakah tidak penting lagi penghormatan kepada saudara seiman dan menjaga kerukunan demi Ibadah personal? Seperti yang didawuhkan oleh Syaikh Murobbi Ruhina Miftahul Luthfi Muhammad, bahwa jangan sampai kita beribadah diajak oleh hawa nafsu, tapi ajaklah hawa nafsu untuk beribadah. Dan ibadah personal tanpa mengindahkan ibadah sosial sangat potensial berangkat dari nafsu yang mengajak beribadah. Dan jelas, praktik mencium Hajar Aswad ini telah membutakan mata kita bersama tentang pentingnya ietsar dan menjaga diri dari egoisme beribadah.

Apakah dosa jika misalnya kita tidak mencium Hajar Aswad untuk menghindari terjadinya desak-desakan yang mengakitbatkan aksi sikut-sikutan antar saudara?

Penulis kira, Ibadah seperti ini juga soal “rasa” dalam beribadah. Lambaikan tangan dari jauh dengan hati paling khusyuk, lantas kita haturkan rasa hormat dan cinta kepada batu yang pernah merasakan ciuman dari kekasih Alloh itu, lalu lirihkan rasamu padanya, “Hatiku mewakilkan bibirku untuk datang menciummu. Andaikan tidak karena aku mencintai saudaraku, dan memilih untuk tidak menyikut dan menyikat mereka, umat dari sosok mulia yang dulu menciummu, tentulah aku datang padamu dengan hati dan bibirku untuk menciummu. Tapi cukuplah hatiku datang padamu, dan aku titipkan ciumanku di bibir-bibir saudaraku”, misalnya.

Dan toh mencium Hajar Bukan suatu keharusan yang harus dilakukan. Apalagi jika ciumannya penuh tendensi. “Biar nanti bisa diceritkan ke tetangga”, misalnya. Sekali lagi, misalnya. Maka memilih untuk menjaga situasi tetap kondusif dengan tidak ikut berjejal, barangkali tidak lebih buruk.

Dan tragedi Mina yang hingga tulisan ini selesai mencapai 310 orang karena terinjak. Hal tersebut juga tidak lepas dari egoisme beribadah. Jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sedikit. Apalagi ini soal nyawa. Menurut penuturan yang disampaikan oleh kabarmekkah.com, insiden tersebut terjadi sebab saling berjejal dan berebut ingin segera melempar lebih awal setelah mabit di Muzdalifah.

Dituturkan oleh Pak Yunus, jama’ah Haji yang berangkat beberapa tahun lalu, bahwa antusiasme mereka saat melempar Jumroh memang luar biasa. Biasanya jamaah Indonesia disarankan dan sangat ditekankan untuk berangkat setelah dhuhur. Sebab pada waktu dhuha. Kepadatan tidak terbendung. Bahkan ada yang mengatakan bahwa melaksanakan jumroh harus sudah siap-siap dengan nyawa yang berpotensi melayang karena berdesak-desakkan di tengah-tengah sedemikian banyak orang.

“Saat kondisi sedemikian tidak kondusif, masih ada saja orang yang bertingkah dan berlaku jail” Kata bapak 3 putra itu.
“Di dalam terowongan perjalanan jumroh Aqobah itu masih sempat ada orang yang melempar sandal, kopyah ke blower yang berfungsi menyejukkan para jama’ah yang berjejal. Bahkan ada juga yang saling dorong dan kencing sembarangan,”

Dari insiden itu, setidaknya kita harus semakin membuka mata kita dan menyadari betapa egoisme bukan hanya melukai, tapi juga membunuh. Ini menjadi pelajaran untuk semakin memahami betapa pentingnya Ibadah Personal dan Ibadah Sosial yang harus dijalankan saling beriringan.

Salam

Posting Komentar

0 Komentar