Berdikari Tanpa Kontaminasi (1)


Suatu hari, saya berdiskusi dengan seorang teman tentang orang-orang kita di luar negeri, tanpa ijasah, tapi jadi orang yang “cukup dipentingkan”. Nanti akan saya jelaskan yang saya maksud dengan “cukup dipentingkan” di atas. Namun terlebih duhulu yang akan saya jadikan sorotan awal dalam tulisan kali ini adalah tentang hidup tanpa ijasah. Nanti akan kita tarik juga pada titik kehidupan dengan bekal “judi”, berani, inovasi, kreatifitas, nasionalisme, skill, dan kecerdasan membaca momen.


Kita tahu bahwa di negeri ini, ijasah jadi “jimat” bagi mayoritas penduduknya untuk mendapat kerja. Banyak orang tua yang gelisah ketika anaknya tidak mau sekolah dan memilih fokus pada apa yang mereka sukai. Pergulatan semacam itu bisa anda baca dalam buku Dunia Tanpa Sekolah yang ditulis oleh M. Izza Ahsin. Bagaimana pergulatan melawan keinginan keluar dari sekolah dan mengalokasikan banyak waktu untuk menulis yang berbenturan dengan keinginan orang tua untuk tetap menyekolahkan anaknya karena khawatir masa depan suram tanpa ijasah.

Juga dalam penuturan beberapa anggota komunitas belajar Qoryah Thoyyibah, dimana orang tua tidak begitu saja setuju untuk menyekolahkan anak mereka di tempat yang notabenenya tidak “menyediakan ijasah”, dan memang tidak menjadikan ijasah sebagai fokus pencapaian belajar. Diskusi dan negosiasi yang kadang alot pun harus dilalui demi menantang kehidupan tanpa kertas sakti itu. Tapi setalah berjalannya waktu, melihat hasil yang didapat dari pendidikan yang tidak mendewakan ijasah itu mampu bersaing dengan mereka yang sekolah, barulah kesadaran itu bertebaran, bahwa pendidikan bukan hanya soal ijasah. Mendapat uang bukan hanya dengan ijasah.

Keyakinan bahwa kelak, bangsa Indonesia akan sadar ijasah akan hanya menjadi kertas usang. Hal senada juga disampaikan oleh Syaikh Murobbi Ruhina Siddi Miftahul Luthfi Muhammad al-Mutawakkil. “Pada waktunya, kita akan jenuh sendiri dengan nilai ijasah yang seringkali menipu kemampuan sesungguhnya. Maka sistem rekrutmen pun nantinya akan menitik beratkan pada skill dan pengalaman yang dimiliki.” (Kajian Risalatul Luthfiyyah fi Ahaditsil Mukhtar jilid 1, Jum’at, 14 Agustus 2015)

Bahkan kini sudah banyak kita lihat sistem rekrutmen pada posisi sentral perusahaan yang tidak lagi mementingkan isi ijasah. Budi pekerti, kekokohan memegang ajaran agama, table manner, amanah dan kejujuranlah kini mulai banyak menjadi fokus perekrutan. Bisa anda baca penuturan tentang hal ini pada rubrik cermin di majalah MAYAra edisi 158.

Sistem ijasah yang harus diakui tidak lagi bersih akan mencapai titik nadir dan tidak lagi “disegani”. Kesadaran sebagai naluriah manusia akan menarik diri dari kepalsuan angka (nilai). Sebab dalam dunia kerja dan praktek lapangan, angka adalah pendukung nomor sekian. Kita butuh ketangkasan yang absolut. Nilai tidak bisa terus membantu dan menutup-nutupi fakta kemampuan yang sesungguhnya. Pada waktunya, nilai adalah sampah yang tak berharga.
Bersambung....


Posting Komentar

1 Komentar

  1. Wah saya baru tau kalau ternyata ijasah sudah tidak menjadi prioritas lagi bagi perusahaan tertentu, Mas. Benar sekali sih, karena masih banyak aspek yang bisa bahkan harus dipertimbangkan dalam merekrut SDM baru. Nilai tak bisa sepenuhnya dijadikan bahan pertimbangan itu, secara kita tak tahu kan orang tersebut bagaimana mendapatkan hasil nilai tersebut. Karena nilai hanya sebatas hitam di atas putih.

    BalasHapus