Urip


Aku mencurigai hidup, sebab ia bukan kepastian. Kusangka ia akan baik-baik saja berjalan, tetapi tiba-tiba kepalaku seperti dipukul gada, berkali-kali sampai tak sadarkan diri. Lain waktu kupikir aku akan celaka, lama berselang, aku baik-baik saja, malah bisa bersiul menikmatinya. Kemudian memang, ia berjalan sesuai jalannya sendiri, ia makhluk juga yang tak kuasa menentukan semua yang diinginkan akan jadi kenyataan. Karena tak pernah belajar menkhalifahi hidup, seringkali aku heran dan tersiksa menghadapinya. 


Kalau kau bukan ikan mati, sampah atau tai maka hidup itu melawan arus sungai. Pertama tentu kau akan basah, lelah, dan tak boleh berhenti berenang. Lantas siapa yang menentukan kapan engkau akan berhenti berenang? Lantas kemana tujuan kita melawan? Di tepi mana kita musti berhenti dan meyakini bahwa ini memanglah sebuah persinggahan? 

Sedangkan engkau memikirkan jawaban-jawaban, engkau tak boleh lupa terus berenang.


Posting Komentar

0 Komentar