Santri Istiqomah




Syahdan, ada seorang anak muda hidup di pesantren, katakan saja namanya Sho’im. Dia adalah shantri yang rajin. Paling rajin di antara teman-temannya yang lain. Baik rajin dalam hal pelajaran-pelajaran yang diajarkan di pesantren itu dan pelajaran-pelajaran atau ilmu pengetahuan yang lain, yang di dalam pesantren itu tidak diajarkan. Otomatis, dia adalah shantri yang berbeda dengan santri-santri yang lain. Selain dia pandai dalam ilmu yang dikurikulumkan di pesantren, dia juga pandai akan khazanah-khazanah ilmu di “luar” pesantren.


Anak muda itu juga rajin melakukan solat jama’ah di masjid yang ada dalam pesantren itu. Solat malam dan solat-solat sunah lainnya juga dia kerjakan. Puasa sunah juga dia lakukan. Baik puasanya Nabi Dawud, puasa bidh, puasa senin & kamis, dan puasa sunah yang lain. Pada kesempatan ini, dia sedang berpuasa sunah senin & kamis. Sudah beberapa minggu ini dia menjalaninya.

Menurut pandangan secara fikhiyah, dia dikatakan orang yang istiqomah. Setia waktu selalu terus menerus tho’at kepada Sang Pencipta. Setiap kali dia melakukan puasa sunah, baik puasa senin & kamis yang sedang dijalaninya itu atau puasa-puasa sunah yang pernah dia kerjakan sebelumnya, begitupun amalan-amalan ibadah lainnya, dia belum pernah putus sia-sia kecuali ada udzur syar’i.

Di suatu hari yang bertepatan dengan hari senin, orang tuanya dari kampung datang menyambanginya ke pesantren di mana dia nyantri. Ibunya menyunggi wakul, (eh, kok nggak enak ya kalau menyunggi wakul. Apa sih bahasa indonesianya nyunggi dan wakul itu? Ah, biarlah! Kembali lagi ke ibunya). Wakul yang disungginya itu berisi masakan yang beliau masak sendiri dengan tangan keriputnya. Masakan itu berupa nasi putih dan lauk-pauk seadanya. Karena ingin membuat anak senang, beliau memasak nasi putih/beras, padahal setiap harinya untuk makanan keluarganya, jarang sekali makan nasi putih. Makan nasi putih mungkin ketika ada tetangga yang mempunya hajatan saja. Tetapi ketika menyambangi anaknya di pesantren, beliau dengan susah payah menyisihkan uangnya untuk membeli beras untuk dibawanya. Karena di pesantren itu tidak hanya anaknya saja yang nyantri, beliau memasak nasi dan lauk-pauknya agak banyak biar nanti anaknya makan bareng-bareng dengan temannya, paling tidak teman sekamrnya.

Masakan itu memang tidak begitu istimewa di mata rata-rata orang-orang menengah ke atas. Beliau memasak tidak memakai kompor minyak, apalgi kompor gas. Beliau memasak menggunakan tungku dari tanah liat yang diulet dengan gabah sehingga terbentuk seperti tungku. Bahan bakarnya ranting-ranting kayu kering yang diambilnya di sekitar rumah. Jika di sekitar rumah sudah kehabisan ranting kering, beliau atau ayah dari putranya yang mencari kayu bakar di hutan.

Sementara anak muda yang bernama Sho’im tersebut menyambut kedatangan ibunya. Mencium tangannya, dibolak-balik punggung dan telapak tangannya. Lalu mencium tangan ayahnya yang legam dan kasar. Dibolak-balik. Berlepaslah rasa kangen dan rindu antara anak dan orang tua yang sudah beberapa bulan tidak bertemu. Air mata kasih tak terasa mengucur dari kedua mata ibunya. Tak terasa menetes di pundak sang anak. Ayahnya juga terlihat haru meski tidak sampai meneteskan air mata.

Setelah berpeluk melepas kangan, ibunya membuka wakul yang dibawanya. Menyuruh putranya untuk memanggil teman-temannya agar makan bareng-bareng. Namun sebelumnya, beliau menyuapi putranya agar mencicipinya terlebih dahulu. Sho’im menganga dan mengunyahnya. Baru satu kunyahan, dia memuntahkan suapan ibunnya itu. Kemudian berlari keluar dan berkumur-kumur lalu memuntahkan airnya. Ibunya kaget, dicicipinya lah masakan yang beliau bawa itu, khawatir rasanya tidak enak atau bagaimana. Tapi setelah dicicipinya, masakannya itu seperti biasanya. Atau perasa anaknya berubah sewaktu berada di pesantren ini? Belum terjawab kekagetan ibunya.

“Ibu, ma’afkan saya Ibu! Saya sedang puasa sunah senin, Bu. Jadi saya tadi memuntahkan masakan Ibu bukan karena tidak enak, tetapi saya lupa tadi kalau saya sedang berpuasa sunah.” Ujar Sho’im.
Meski kekagetan ibunya tadi terjawab, rasa kecewa masih sedikit terlihat dari wajahnya. Tentu saja bukan sho’im yang melihat hal itu, tetapi sang ayah yang paham akan hal itu. Hanya saja ayahnya diam saja. Mungkin anaknya itu ingin melatih diri menjadi hamba yang istiqomah dalam menjalani amal ibadah. Maka dari itu ayahnya hanya diam saja.

Namun di tempat itu tak hanya ada Sho’im dan orang tuanya saja. Di sana ada bebera teman sekamar Sho’im, salah satunya adalah senior Sho’im yang menjadi ketua kamar namanya Ro’is. Ro’is memberi tanda kepada Sho’im untuk mengikutinya sebentar. Keluarlah Ro’is lebih dulu kemudian disusul oleh Sho’im. Setelah di luar kamar, Ro’is mengingatkan Sho’im. Dia menjelaskan tentang hal puasa yang dia ketahui kepada Sho’im.

“Im, kamu tidak tepat jika memuntahkan makanan yang sudah disiapkan oleh ibumu. Apalagi ibumu yang menyuapimu. Coba kamu renungkan apa yang baru saja kau lakukan. Puasa itu senin kamis itu sunah. Memang kita dianjurkan untuk senantiasa istiqomah, tetapi jika keistiqomahan itu tidak kerjakan sekali duakali karena ada udzur syar’i, kita masih mendapatkan nilai keistiqomahan itu. Tentang puasa sunah ini, Kanjeng Nabi juga sudah memberi contoh, suatu ketika Beliau membatalkan puasa sunah Beliau karena ternyata Ibunda Aisyah sudah menyiapkan makanan. Minta ma’aflah kepada ibumu dan makanlah apa yang dibawa ibumu. Apapun yang kamu lakukan dan amal ibadah apapun yang kamu amalkan, jika ibumu kecewa kepadamu. Amal ibadahmu itu akan sia-sia. Ayo, masuk! Minta ma’af pada ibumu.”

Sho’im masuk. Di belakangnya Ro’is mengikuti. Dia bersimpuh di depan ibunya, mencium tangan ibunya yang terasa dingin. Tidak seperti tadi yang hangat. “Ibu, ma’afkan anakmu ini, ma’afkan ibu, ma’afkanlah! Saya sudah membatalkan puasa saya dan sekarang ingin disuapi oleh ibu lagi.” Ibunya tak dapat berkata apa-apa. Sekali lagi air mata kasihnya menetes dari kedua pelupuk matanya. Sambil menyuapi sang anak, ibunya berasa bahagia bercampur haru. Ayahnya, ayahnya tak kalah bahagia dan harunya. Kedua mata ayahnya tampak berkaca-kaca, dan Sho’im melihat pacarana bahagia dan haru dari kedua orang tuanya itu.

Posting Komentar

0 Komentar