Mencetak Kiai Ramah Lingkungan


Banjir di berbagai daerah di Indonesia yang terus berlangsung setiap tahun menjadikan pelajaran berharga bagi kita semua akan pentingnya hidup ramah lingkungan baik mereka yang berada di perkotaan, pedesaan maupun pegunungan.


Dalam hal ini peran ulama sangat penting dalam menjadi garda terdepan untuk memberi contoh masyarakat. Mereka tidak hanya dituntut memberikan penyadaran di atas mimbar-mimbar mulia, namun juga memberi contoh langsung kepada masyarakat agar ‘mata’ mereka lebar terbuka bahwa seorang ustadz maupun Kiai tidak hanya bisa bicara.

Awal Januari 2013 lalu, KH. Uzer asal Bangilan Tuban wafat. Ribuan pelayat dari berbagai tempat datang untuk mendoakan dan mengantarkan jenazahnya ke tempat peristirahatan terakhir beliau. Banyak di antara mereka yang sangat cinta, rindu dan terkesan dengan Yai Uzer karena selain mengajar para shantri, beliau selalu memberi contoh langsung masyarakat dalam membersihkan sungai maupun gorong-gorong dari sampah sehingga tempat tersebut sekarang tidak terjadi banjir walaupun sebelumnya sering terjadi.

Arus kapitalisme dan materialisme mungkin sudah menggerus sebagian besar komponen bangsa ini termasuk para dai, ustadz maupun kiainya. Mereka yang hidup dikota-kota terutama di ibu kota tidak berfikir menjadi Kiai ramah lingkungan yang bisa diandalkan. Selain berkotor-kotor diri, kegiatan ini tidak menguntungkan secara hitungan materi dibandingkan tebalnya amplop ustadz ibu kota.

PeNUS MTI al-Ibadah al-Islami, dalam hal ini dipandegani langsung oleh Abuya Miftahul Luthfi Muhammad sudah menyadari arus berbahaya tersebut sehingga dengan tanggap dalam beberapa tahun terakhir ini mengobarkan semangat Green Jihad terutama bagi para dai daiyah, ustadz maupun kiai pemangku pesantren asal PeNUS MTI.

Pesan-pesan ramah lingkungan maupun pelatihan kepada mereka dari  Abuya dalam berbagai kesempatan seakan telah merasuk ke alam bawah sadar mereka. Hal itu terlihat ketika mereka sudah tidak canggung lagi Khutbah Hijau di masjid-masjid serta tidak ada rasa jijik jika harus turun ke sungai untuk membersihkan sampah bersama-sama para shantri dan kemudian diikuti oleh warga sekitar.

Tidak sedikit pemangku pesantren maupun tokoh masyarakat yang menuntut ilmu di PeNUS MTI mampu menginspirasi warga di sekitarnya untuk mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Kiai Abu Nasih Ujung Pangkah Gresik, Yai Mahsun Maftuhin Tuban, Yai Sahal Asrori Sidoarjo sampai Yai Ali Misbahul Munir, Sukolilo Surabaya serta masih banyak yang lainnya.

Ketika kegiatan di gunung biasanya hanya bersenang-senang. Hal ini tidak berlaku bagi shantri, dai daiyah maupun Kiai dari PeNUS MTI. Selain mereka diajak menanam bersama, membersihkan sampah digunung mereka juga dianjurkan membawa ketapel dan isi buah tertentu agar penanamannya bisa menjangkau daerah terjal yang tidak terjangkau oleh pejalan kaki.

Dalam berbagai kesempatan, Abuya juga mengajak para dai dan daiyah baik yang sudah memangku pesantren maupun belum untuk belajar langsung kepada Yai Ali Mansyur. Melihat betapa gigihnya perjuangan Kiai desa Jenu, Tuban yang menanam ratusan ribu mangrove di sepanjang pesisir pantai Tuban untuk membentengi warga dari abrasi.

Tidak hanya mencetak Kiai ramah lingkungan, PeNUS MTI juga mencetak pemimpin tangguh dan tidak gentar dalam memperjuangkan kebenaran dan punya kepedulian tinggi terhadap lingkungan semacam Bu Risma Walikota Surabaya.


Posting Komentar

0 Komentar