Menangkap "Peluang" Atas "Gejala" Tuhan

Musim hujan datang. Hampir setiap sore, kota metropolis macam Surabaya yang panasnya ra umum, mendapat kunjungan rahmat Tuhan yang berupa tetesan air dari langit itu. Pada saat yang seperti itu, ada beberapa orang yang merasa tidak begitu nyaman dengan datangnya hujan di sore hari. Terutama orang-orang kota yang mayoritas bekerja di kantor, atau pun para mahasiswa yang karena datangnya hujan di kala senja itu membuat jam pulang mereka tertunda beberapa saat sampai hujan benar-benar reda. Sehingga mereka dapat melanjutkan perjalanan, disamping untuk menjaga kesehatan mereka.


Namun di sisi lain, dalam lingkungan masyarakat desa yang mayoritas bekerja sebagai petani, musim hujan adalah moment yang sangat ditunggu-tunggu. Dengan datangnya musim hujan, pekerjaan bercocok tanam mereka mendapat semacam kompensasi dari Tuhan. Mereka tak perlu repot-repot membuat jalur irigasi dari sumber mata air untuk mengairi tanah dan tanaman mereka.

Dalam dua kondisi yang berbeda itu, Tuhan telah benar-benar memberikan peluang bagi manusia untuk mengais rizkiNYA yang amat luas mencakup seluruh makhluk. Tergantung dari personalitas masing-masing manusianya saja. Utamanya dalam memfokuskan persepsinya ketika ia mendapati ‘gejala-gejala’ Tuhan, khusus dalam hal ini adalah hujan.

Di desa, seperti yang telah disinggung di atas, musim hujan mendatangkan kemudahan bagi para petani. Utamanya dalam hal irigasi. Kemudahan dalam irigasi tersebut membuat banyak orang ramai-ramai untuk bercocok tanam. Sehingga, berawal dari ramainya profesi cocok tanam itu, akan ada banyak lahan yang terbuka bagi siapapun untuk menjala rizki dari peluang yang di berikan oleh Tuhan. Mulai dari berjualan alat-alat cocok tanam seperti cangkul dan sebagainya, produksi pupuk-pupuk yang akan menyuburkan tanaman dan menjaga kegemburan tanah, lalu menyediakan barang-barang yang diperlukan pasca panen, atau segala pekerjaan lain yang masih ada hubungannya dengan profesi cocok tanam.

Itu adalah peluang yang seharusnya dapat ditangkap oleh masyarakat desa. Adapun peluang-peluang yang terdapat di kota tentu akan jauh lebih banyak dibanding dengan peluang yang ada di desa. Selain karena faktor jumlah penduduk yang lebih banyak, lalu faktor profesi yang juga jelas lebih banyak, faktor peradaban yang dinilai lebih maju tentu juga memengaruhi reaksi dari masing-masing individu dalam menangkap peluang dari Tuhan.

Disebabkan karena peradaban yang dinilai lebih maju daripada peradaban di desa, secara otomatis, kebutuhan masyarakat di kota tentu jauh lebih banyak daripada kebutuhan masyarakat di desa. Hal tersebut akan memicu para produsen untuk meningkatkan produktifitas barang-barang yang sekiranya dibutuhkan oleh masyarakat kota ketika musim hujan. Mulai dari jaket yang dapat melindungi tubuh dari rasa dingin, memproduksi payung dan jas hujan, mendirikan kedai kopi di tempat yang strategis dan kiranya nyaman untuk diampiri sembari menunggu hujan reda, dan masih banyak lagi yang semacamnya.

Adapun bagi beberapa orang yang terkena flu dan merasa kondisi fisiknya menurun karena efek dari pergantian musim, hal ini akan menjadi peluang bagi para dokter maupun para pelaku farmasi untuk meracik obat yang dapat menjadi katalisator sembuhnya flu dan juga untuk menjaga sistem imunitas tubuh agar tak mudah terserang flu ketika masa pergantian musim seperti saat ini. Namun, khusus untuk yang satu ini, tak dapat dijadikan alasan bagi dokter maupun para pelaku farmasi tadi untuk membuat obat yang hanya memberi efek kenyamanan sementara agar pasiennya datang kembali untuk membeli obat yang sama ketika efek obat pertama telah usang. Hal tersebut sama saja menyalah gunakan peluang yang diberikan oleh Tuhan hanya karena dalih kebutuhan kapitalistik. Itu berlebih lebihan. Dan Tuhan tak menyukai segala sesuatu yang berlebih-lebihan.

*****
Berawal dari satu ‘gejala’ Tuhan yang bernama hujan itu, terdapat banyak peluang yang dapat menghantarkan seseorang untuk menjala rizki dari Tuhan. Dan, tentu saja, ada banyak ‘gejala’ Tuhan yang ada dalam kehidupan ini. Jika satu ‘gejala’ Tuhan saja mengandung banyak peluang di dalamnya, maka betapa luasnya rizki TUHAN untuk para hambaNYA. Dan, sekali lagi, hal tersebut tergantung dari individu masing-masing manusia. Pandangan yang sempit terhadap keluasan rizki Tuhan itu, akan menyempitkan rizkinya sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar