Mana yang Hitam, Mana yang Gelap




“Apa yang dapat kau lihat dalam kegelapan tanpa cahaya? Bahkan warna hitam pun tak dapat kau lihat di dalam kegelapan.” Markasan bertutur.


Gelapnya malam ketika itu membuat Markasan agak geram sebenarnya. Namun apalah arti geramnya itu, bila gelap tersebut timbul lantaran petugas PLN yang sedang membenahi tiang listrik yang sore tadi tertimpa pohon tumbang. Ia hanya bisa duduk termangu dan menunggu sampai petugas tersebut kelar dari pekerjaannya itu.

Malam semakin larut dan petugas PLN masih belum rampung dari pekerjaannya. Semakin larut, semakin gelap. Tak ada lampu senter, tak ada lilin, tak ada ublik. Markasan benar-benar tenggelam dalam kegelapan malam itu, di rumah sendirian, tak ada seorang pun selainnya. Bahkan seekor jangkrik pun enggan memasuki rumah angker itu. Kecuali Markusen, tetangga dan sahabatnya yang satu itu tiba-tiba nylonong masuk, tanpa ketuk pintu, tanpa salam. Memang seperti itu kebiasaannya. Ia masuk tanpa ragu, walaupun dalam kegelapan.

“Apa maksudmu?” Tanya Markusen mengawali pembicaraan.

“Kau datang tanpa ku undang. Masuk tanpa ketuk pintu, tanpa salam. Tiba-tiba duduk dan menanyakan maksud. Maksud yang mana maksudmu?” Markasan agak sensi kali ini.
“Tadi kau bilang hitam tak dapat dilihat dalam kegelapan. Padahal kegelapan itu berwarna hitam. Apa maksudmu tentang itu?” Ungkap Markusen keheranan.

Dalam kegelapan malam kala itu, kedua sahabat tersebut tetap nyaman dengan perbincangannya. Seolah mereka telah lupa bahwa tak ada sedentil pun cahaya yang mereka lihat di dalam rumah. Namun, karena kedua manusia yang bersahabat itu sering kali mengundang kisruh tetangga lantaran percakapan mereka yang terlalu keras dan berisik, maka alangkah baiknya jika percakapan itu terekam benihnya saja dalam konsep yang lain.

Ceritanya, malam itu Markasan dan Markusen saling lempar argumen perihal asumsi mereka atas kegelapan dan hitam. Markusen yang merasa tak terima –entah kenapa juga- ngotot menyalahkan Markasan yang menganggap hitam dengan gelap itu beda. Ia (Markusen) lebih menganggap bahwa hitam itu sama saja dengan kegelapan. Namun, ternyata anggapan Markusen terputus uratnya, ketika Markasan memberikan syarah tentang kedua hal tersebut.

“Hitam dan gelap itu berbeda. Hitam tetaplah hitam pada hakikatnya. Begitu pula gelap. Hitam akan terlihat ketika ada cahaya di sekitar kita. Namun di dalam kegelapan, warna hitam tak dapat dilihat. Dalam kegelapan yang ada ya hanya gelap. Bukan hitam! Semua warna ditelan kegelapan, termasuk warna hitam. Dan, sebaliknya. Semua warna akan terlihat jika tersentuh cahaya, termasuk warna hitam.

“Dalam kegelapan, seseorang tak dapat melakukan sesuatu dengan benar sepenuhnya. Pasti sesekali tersandung, lalu terjatuh. Begitu seterusnya. Dalam kegelapan, seseorang tak tahu apakah yang ia sentuh itu kertas berwarna putih atau hitam. Karena dalam gelap, warna kertas juga tak tampak. Dan puncak keburukan dari kegelapan adalah ketika kegelapan itu menguasai hati seseorang. Ketika hati gelap, seseorang tak tahu apakah pekerjaan itu putih atau hitam, apakah pekerjaan itu benar atau salah. Karena ia tak tahu, karena ia tenggelam dalam kegelapan, maka ia pun melanjutkan pekerjaan itu.”

Markasan menyudahi ceramahnya di dalam kegelapan. Ia merasa puas karena telah membuat Markusen membisu setelah mendengar argumentnya. Namun kepuasan Markasan itu lenyap tak berbekas, ketika ia mendengar dengkuran Markusen.

Posting Komentar

0 Komentar