Iklan Malamatiah


Bukan suatu kebetulan, ketika di pagi-pagi buta itu Markasan yang sedang libur sekolah, joging untuk sedikit melepas penat setelah sepekan diguyur materi pelajaran. Matanya yang tak pernah diam, lirik sana lirik sini, selalu saja menemukan hal-hal yang cocok untuk dijadikan komposisi renungan kehidupan. Entah itu ada relevansinya dengan sekolah, atau bahkan sama sekali tak ada kaitannya dengan itu.


Tepat di sebelah toko serba ada yang terletak di pojok perempatan jalan, terdapat banner yang cukup besar. Mengiklankan satu produk rokok yang sudah cukup masyhur di seluruh elemen masyarakat. Dan tentu saja, hal itu tak luput dari pandangan jahil Markasan. Terutama tentang tulisan yang ada di bagian paling bawah dari banner itu. “Peringatan: Merokok Membunuhmu!”. Seperti demikian tulisannya.

“Mungkin ini adalah salah satu contoh iklan terbaik di seluruh dunia.” Gumam Markasan dalam hati. “Tak seperti umumnya iklan yang cenderung ‘ujub, alias membanggakan produknya sendiri. Iklan ini berbeda. Ia justru seolah-olah membeberkan keburukannya sendiri. Mengancam siapapun yang mengonsumsinya. Atau, mungkin saja yang bikin iklan ini adalah penganut thoriqoh malamatiah.”

Dalam jogingnya pagi itu, yang berkeliling di atas diameter otak Markasan adalah tentang iklan yang dianggapnya paling jujur itu. Iklan yang sama sekali tak menunjukkan kebaikannya sendiri. Terlebih lagi, dengan embel-embel berupa ancaman “Merokok Membunuhmu!”, justru sama sekali tak menyurutkan konsumen tembakau blungsungan kertas itu. Semakin hari semakin meledak jumlah konsumennya. Mulai dari kalangan muda, sampai pada kalangan tua yang nafasnya tak lagi sampai di dada. Nalar Markasan tak sampai untuk memikirkan hal itu.

“Siapa yang jujur pasti akan mujur. Semakin jujur, maka seseorang akan semakin meningkat kualitas hidupnya. Tak terkecuali dalam konteks periklanan. Penjualan rokok yang teramat banyak dan menggunakan iklan ter-jujur di antara iklan-iklan produk selainnya, membuatnya menjadi produk dengan tarikan pajak tertinggi di bumi Indonesia ini. Intinya, yang jujur itu akan selalu berada di atas yang hanya sekedar bualan tanpa bukti belaka.” Pikir Markasan.

Renungan bathin Markasan semakin meluas ke seluruh penjuru kehidupan yang dijalaninya. Bahkan sampai masuk ke wilayah lingkaran sekolahnya. Tentang ujian yang menjadi penentu kelulusan siswa. Tak sedikit siswa yang memilih untuk bertindak tidak jujur dalam mengerjakan ujiannya. Bahkan pihak sekolahan pun ada yang mengusulkan atau justru malah memerintah agar seluruh lapisan peserta didiknya berlaku tak jujur. Entah itu dengan cara berbagi jawaban kepada sesama siswa, atau bahkan sampai mengedarkan kotak amal untuk urun dalam membeli kunci jawaban dari pihak makelar pendidikan. Celaka sudah jika demikian adanya.

“Ketidak jujuran dalam menghadapi ujian akhir sekolah akan berakibat sebagaimana kebangkrutan sebuah produk jika iklannya hanya tipuan untuk menarik konsumen. Hasil buruk dari sebuah kejujuran lebih baik dari pada hasil baik dari sebuah kebohongan. Nilai buruk yang berasal dari kejujuran kemampuan sendiri lebih baik daripada nilai baik yang bersumber dari kecurangan. Nilai sekolah bukan penentu bagaimana jalannya kehidupan seseorang di masa mendatang. Namun nilai etika moral harga dirilah yang akan menjadi parameter kedudukan seseorang di mata publik.” Kali ini Markasan benar-benar berbicara sendiri, layaknya mengigau.

Sampailah Markasan pada klimaks perenungannya pagi itu. Ia simpulkan bahwa sebenarnya iklan rokok itu bukan iklan jujur, namun iklan malamatiah yang memiliki tendensi menampakkan keburukannya sendiri. Di sisi lain, ia juga mendapat pemahaman bahwa seorang perokok merupakan golongan orang-orang yang kuat imannya. Mereka adalah orang-orang yang hanya percaya bahwa kematian itu muthlak adalah takdir Tuhan. Rokok tak dapat membunuh perokok. Hanya Tuhan yang mampu mengambil nyawa semua orang, termasuk para perokok.

Adapun tentang malaikat maut, ia hanya sekedar mengerjakan apa yang sudah diagendakan oleh Tuhan. Ada kalanya malaikat maut diperintahkan untuk mencabut nyawa seseorang melalui perantara apapun. Dan tentu, rokok juga bisa juga menjadi peranara kematian. Lha wong keselek saja juga bisa menjadi perantara kematian, kok.
Ada kisah menarik yang kompatibel dengan pemahaman tersebut. Dikisahkan, ada seorang manusia yang takut mati. Ia berencana untuk mengelilingi dunia agar ia lolos dari kejaran malaikat maut. Sedangkan rumah aslinya berada di Mesir.
Malaikat maut menjadi bingung ketika Tuhan memerintahkannya untuk menunggu orang tersebut di negeri Cina. Terlalu jauh kiranya ia menunggu nyawa orang Mesir di Cina. Jarak antara dua negeri itu sangatlah jauh. Namun malaikat tetaplah malaikat. Makhluk yang hanya bisa nurut pada Kholiqnya.

Sedangkan orang Mesir yang mencoba melarikan diri dari kejaran malaikat maut tadi, terus saja menjelajah. Dan akhirnya, ketakukannya akan kematian itu justru mengantarkannya pada kematian. Ia yang terus saja mencoba lari dari malaikat maut, saking takutnya, pelariannya itu sampai ke negeri Cina yang di sana malaikat maut akhirnya menuntaskan penantiannya atas nyawa seorang yang takut mati. Takdir atas kematian orang itu sudah lama ditetapkan. Tak mungkin Tuhan salah dalam menempatkan malaikat maut untuk menanti calon nyawa yang akan di angkatnya.
******

Semakin lama, renungan Markasan semakin tak tahu arah. Menerobos sampai ke luar batas garis tepi pemikirannya. Hasilnya? Tentu membuatnya semakin bingung. Dan akhirnya, ia memutuskan untuk pulang mengakhiri renungannya pagi ini dengan menikmati beberapa batang rokok ditemani secangkir kopi. Sesempatnya ia syukuri, sebelum ia mati []


Posting Komentar

0 Komentar