Darah Markusen & Air Mata Kaum Nabi Musa

Pagi-pagi sekali, beberapa saat sebelum matahari menampakkan jati dirinya yang sesungguhnya, Markasan yang sedang asyik membaca buku di teras rumahnya dikejutkan dengan kedatangan seorang lelaki misterius. Ia yang datang dengan jaket hitam lusut dan topi warna putih polos tiba-tiba nylonong langsung masuk. Markasan kaget setengah mati.


“Woy! Siapa kau?’’ Teriak Markasan sebagai reflek atas kekagetannya tadi.

Tanpa ada reaksi apapun, orang misterius itu terus masuk lebih dalam. Ketika ia sampai  di dapur Markasan yang terlihat cukup luas, ia berhenti. Duduk sembari menyelonjorkan kakinya yang terluka parah dan darah bercucuran mulai dari lutut sampai ujung kaki kirinya. Namun hanya itu saja yang terlihat. Wajahnya masih tetap tersembunyi dari cahaya dan jatidirinya masih tetap jadi tanda tanya dalam pikiran Markasan.

Luka itu tampaknya benar-benar serius. Darah yang keluar dari kakinya tak kunjung reda. Markasan berlari mendatanginya sembari membawa kapas dan alkohol yang ia simpan di bawah rak televisinya.

Alloh Karim... Ternyata kau Sen,” Markasan kaget setelah melihat orang misterius dengan kaki kiri yang berlumur darah itu adalah Markusen. Tetangga yang juga merupakan sahabat karibnya semasa SMA dulu.

Setelah bertanya tentang apa yang terjadi pada sahabatnya itu sembari membersihkan darah yang ada pada kakinya, Markasan mendapat kesimpulan bahwa kenapa Markusen buru-buru lari masuk ke dalam rumahnya adalah karena Markusen takut kalau sampai orangtuanya tahu bahwa ia telah mengalami kecelakaan individu yang mengakibatkan kakinya terluka parah. Itu juga sebabnya ia menutupi wajahnya agar tak tersentuh cahaya.

“Bagaimana kronologinya? Kenapa sampai sedalam itu luka di kakimu? Jangan bilang kau naik motor ugal-ugalan lagi? Bukankah ibumu sudah memperingatkanmu agar lebih berhati-hati ketika naik motor! Bukankah Mbah Yai Sukir sudah memberimu wirid-wirid yang dapat menjadi penjagamu dari seluruh madlorot? Atau kau...”

“Hooppp!!!” Markusen memotong, “Kau ingat hari ini hari apa? Ini hari senin, bukan hari jum’at. Bukan waktunya dihari senin kau berkhutbah. Lagian, kau juga bukan tukang khutbah.”

Tak ada reaksi berarti dari Markasan. Wajahnya melukiskan kecemasan karena kaki kiri Markusen masih juga belum mau berhenti mengeluarkan darahnya. Daging di perdelangan kaki dan dipersendian jempolnya mengelupas. Terlihat amat mengerikan.
“Awal kejadiannya”, Markusen mulai cerita, “bukannya karena aku ngebut, tapi mungkin karena ceroboh. Ketika aku mencoba mengancingkan jaket karena merasa kedinginan, memacu motor dengan kecepatan 60 km/jam sembari lepas satu tangan dari ster, bruuaaakkk! Ada lubang cukup dalam di jalan yang kuhantam. Dengan kecepatan itu pula, aku terhampar bersama motor itu sampai beberapa meter terseret ke depan. Mungkin juga, lantaran tertindih motor itu, kakiku mendapat luka yang cukup dalam seperti itu.”

“Kau gila! Seharusnya kau berhenti sejenak untuk membenahi jaketmu itu. Sekarang, kau sendiri yang merasakan akibatnya!” Sahut Markasan dengan sedikit berteriak.

“Ucapanmu sama sekali tak membantu. Seharusnya kau katakan itu sebelum aku terjatuh.”

“Siapa juga yang mengira kau akan mengalami hal seperti ini.”

Perbincangan di antara mereka semakin lama semakin meluas dari esensi awal percakapan itu. Daya eksplor dari kedua manusia yang memiliki ikatan erat itu benar-benar hebat. Markusen yang seharusnya melakukan introspeksi atas kejadian yang menimpanya itu justru malah menyalahkan pemerintah. Kenapa di tengah jalan raya besar yang digelar di atas bumi metropolis Surabaya masih juga terdapat gelombang yang cukup dalam. Itu dapat mencelakai banyak penggguna jalan, bukan hanya ia seorang.

Kalau dalam persepsi Markasan, bukan waktunya untuk menyalahkan orang lain. Lebih baik melakukan introspeksi diri, mencari kesalahan diri sendiri dari pada menggali-gali kesalahan orang lain. Karena toh kunci atas perubahan itu terdapat pada masing-masing personal manusia. Dan sebagaimana kebiasaan Markasan selama ini, untuk menguatkan argumentnya, ia sedikit-sedikit mengutip al-qur’an dan hadis.

Markusen yang hanya bermodalkan logika tetap membantah dan tak mau kalah. Ia beranggapan bahwa, kalau jaman sekarang ini pemerintah tak dikritik, maka pemerintah akan semakin brutal dalam mengeruk isi bumi sehingga rakyat tak mendapat bagian. Pemerintah hanya akan peduli pada kebutuhan pribadi sehingga kebutuhan rakyat sama sekali tak terpenuhi. Khusu dalam permasalahan kali ini adalah perihal jalan yang bergelombang. Kalau sudah seperti itu, mau menyalahkan siapa lagi, kalau bukan pemerintah?

Sampai pada klimaks pembicaraan di antara keduanya, tentang wirid dan dzikir penolak bala’. Wirid itu sudah diajarkan oleh Kiai Sukir beberapa bulan lalu. Mereka pun sudah mengamalkannya sejak pertama kali Kiai Sukir mengajarkannya. Dan selama ini, mereka benar-benar terhindar dari berbagai macam hal yang berbahaya. Utamanya Markasan yang ketika ia menabar mobil L300 dan tinggal beberapa senti saja kepalanya hampir tergilas oleh roda mobil itu, ia selamat. Mungkin juga itu lantaran karena wirid dari Kiai Sukir tadi.

Ini yang sejak tadi dipertanyakan oleh Markasan. Apa Markusen lupa membaca wirid itu, sehingga ia mendapati musibah yang sedemikian rupa?

“Aku tak lupa. Sama sekali tak lupa. Bahkan sebelum menaiki motor saja aku membaca wirid itu. Namun, tak apa. Sebenarnya itu bukan suatu masalah besar.” Markusen bertutur.

“Bukan masalah besar bagaimana? Kau tak lihat betapa mengerikannya lukamu itu!” Markasan berontak.

“Itu kan cuma luka. Tak sampai patah tulang. Proses penyembuhannya pun pasti juga akan lebih cepat karena tak ada gejala kesleo atau yang semacamnya.”

“Kalau begitu, biar sekalian kupatahkan saja tulangmu itu.” Markasan semakin kesal dengan cara bicara Markusen yang terkesan menyepelekan itu.

“Bukan seperti itu maksudku. Namun, bisa saja yang dimaksud Kiai Sukir dengan wirid tolak bala’ itu bukan hanya sekedar wirid yang menjadi perantara tertolaknya bala’ dari diri sang pembaca. Barangkali, wirid itu juga merupakan perantara diringankannya beban hukuman kepada setiap manusia yang membacanya”.

Markasan masih diam dan tetap membersihkan darah di kaki Markusen.

“Lagipula, dalam beramal, kita seharusnya lebih ikhlas dan lebih meyakini akan jauh lebih baiknya skenario Tuhan ketimbang prasangka yang selama ini kita bangun.  Maksudnya begini, kalau dalam sebelum beramal seseorang sudah diiming-imingi reward atas amal itu, maka ketika ia beramal dan tak kunjung mendapatkan reward yang telah dijanjikan, pasti ia nggrundel. Dan pada puncaknya, ia berhenti dalam melakukan amal tersebut karena merasa dibohongi.”

“Seperti contoh,” lanjut  Markusen, “Ketika rejeki seseorang seret, lalu seseorang yang lain berkata kepadanya ‘solat dhuha-lah, biar rejekimu lancar’. Lalu ia solat dhuha sampai beberapa hari. Dan ternyata rejekinya masih seret dalam perspektif ekonomi modern. Lalu ia ngambeg, berhenti tak solat dhuha lagi, dan berasumsi bahwa ia benar-benar telah ditipu. Celaka-lah jika pendekatan seseorang dalam beramal berawal dari ketergiuran atas reward-nya. Tak ada niatan murni dari dalam hati bahwa seorang manusia yang tak bisa apa-apa, sudah sangat seharusnya meminta bantuan kepada Tuhan yang Mahabisa, Mahasegala-galanya.”

“Jadi, maksudmu, kita tak perlu mengharap reward berupa terhijabnya diri kita dari berbagai macam bala’ walaupun kita sudah membaca wirid tolak bala’?” Markasan mencoba sedikit memberi respon.

“Kurang lebih, seperti itu. Namun juga, seperti yang telah kukatakan tadi, ada kemungkinan bahwa lantaran seseorang membaca wirid itu, maka Tuhan meringankan bala’ yang hendak diterima orang tadi. Karena kesalahan atau dosa yang telah ia lakukan, dan karena ia telah memohon ampun, maka Tuhan pun mengabulkan permohonannya dengan cara memberikan semacam rasa sakit pada fisiknya. Kan, kau tau sendiri bahwa rasa sakit itu dapat menghapus dosa.”

“Kau sedang khutbah? Kurasa sekarang bukan hari jum’at, dan kau juga sama sekali bukan tukang khutbah.” Potong Markasan dengan sedikit racikan balas dendam atas perkataan Markusen di awal perbincangan tadi.

“Ketika seseorang melakukan kesalahan,” Markusen tak menanggapinya dan melanjutkan khutbah tunggalnya, “lalu meminta ampunan kepada Tuhan, maka Tuhan pasti akan mengampuninya. Entah bagaimana metode dari ampunan itu, itu hak prerogatif Tuhan. Dan salah satu di antara sekian metode yang ada, adalah musibah yang menyakitkan. Paling tidak, dengan rasa sakit itu, Tuhan menghapus kesalahan orang tersebut.”

“Bilang saja kalau kau baru saja melampaui batas-batas yang telah diatur Tuhan. Memangnya, dosa macam apa yang telah kau lakukan?” Tanya Markasan sambil tertawa terpingkal-pingkal.

“Kau bertanya padaku dosa apa yang telah kulakukan? Kau tahu tentang kisah Nabi Musa yang mengalami paceklik sampai 40 tahun lamanya? Jika kau tahu, kau tak mungkin bertanya tentang dosa apa yang telah kulakukan. Tapi yang jelas, dosa itu  terlalu banyak.”

“Paceklik selama 40 tahun?” Markasan tersentak. Jika dilihat dari nada dan ekspresinya, dapat dipastikan bahwa Markasan belum tahu tentang kisah tersebut.

“Iya. Selama 40 tahun itu Nabi Musa beserta kaumnya sama sekali tak mendapati turunnya rahmat Tuhan yang berupa hujan. Singkat cerita, atas perintah Alloh, Nabi Musa mengumpulkan seluruh kaumnya dalam suatu tanah yang terhampar. Setelah berkumpul, mereka solat istisqo’ bersama-sama dengan Nabi Musa sebagai imamnya. Dan setelah itu berdo’a bersama-sama memohon dengan sepenuh hati agar Alloh berkehendak menurunkan hujan untuk mereka.

“Setelah sekian lama berdoa dan hujan belum juga turun, Nabi Musa yang terkenal sebagai kalimulloh atau orang yang dapat berbicara langsung dengan Alloh tanpa melalui perantara malaikat, bertanya tentang apa lagi yang menjadi hijab tidak diturunkannya hujan untuk mereka. Lalu, Alloh memberikan indikasi bahwa ada satu orang di antara seluruh umat Nabi Musa yang telah melakukan maksiat secara terang-terangan selama 40 tahun. Jika ia belum bertaubat, maka hujan tak akan turun.

Markusen terus saja bercerita dan Markasan masih tetap jadi pendengar setia.

“Akhirnya, Nabi Musa menyampaikan kabar tersebut kepada kaumnya. Dengan suaranya yang amat keras itu, tentu saja seluruh kaumnya mampu mendengar kabar tersebut dengan sangat jelas. Kabar telah disampaikan. Dan tak ada seorang pun yang mengaku. Mereka malah saling bisik satu dengan yang lain.

“Namun, di tengah-tengah bisikan itu, ada seseorang yang air matanya deras menghujam tanah. Ia menyesali seluruh dosa yang telah ia lakukan namun takut jikalau nanti ia ngaku, maka seluruh yang ada di sana akan menghajarnya. Ia hanya menangis, menyesali seluruh dosa yang telah ia lakukan, memohon ampun kepada Alloh dalam setiap tetes air matanya, dan berazam dalam hati untuk tidak melakukan dosa itu lagi.

“Karena sibuk dengan bisikannya masing-masing, tak ada seorang pun yang tahu perihal tangisan taubat seorang pelaku maksiat itu tadi. Namun hal tersebut tak akan luput dari pandangan Alloh. Dan, tiba-tiba, hujan mengguyur seluruh area itu. Nabi Musa heran karena belum ada seorang pun yang ngaku, kenapa Alloh sudah menurunkan hujan. Akhirnya, ditanyakanlah sebab perihal turunnya hujan itu.

“Ketika Alloh memberi tahu Nabi Musa bahwa orang yang bermaksiat selama 40 tahun itu baru saja bertaubat, Nabi Musa masih penasaran siapa sebenarnya orang yang dinilai kelewat batas itu.

“Alloh pun menjawab, ‘dulu ketika ia melakukan maksiat selama 40 tahun saja aku masih menutupi aibnya. Lalu bagaimana mungkin AKU akan membuaka aibnya ketika ia telah bertaubat?’ Nabi Musa pun berhenti bertanya dan  seluruh umat bersyukur atas hujan itu. Dan, tentu saja, orang yang menangisi maksiatnya selama 40 tahun itu, masih tetap dalam satir Alloh.”

*****

Cerita dari Markusen telah usai, perbincangan di antara dua sahabat tadi pun ikut usai. Sebenarnya bukan usai-nya cerita itu yang menyudahi perbincangan di antara mereka. Namun, tepat ketika cerita itu usai, ayah dan ibu Markusen tiba-tiba datang, ngomel panjang lebar, dan akhirnya menggendong Markusen untuk pulang ke rumah

Posting Komentar

0 Komentar