Berpayung Daun Pisang


Selembar daun pisang
kutebas dengan pisau
yang kupinjam dari ibu penjual rujak
entah rasanya sakit atau perih
aku tak sempat berpikir
serintik gerimis mulai hujan
kelasku telah usai
adzan duhur terdengar
pakaian pramukaku sedikit basah
ibu penjual rujak menawarkan
untuk sebentar saja berteduh
“tunggu hujan reda” katanya
tapi aku tak mau
ingin cepat sampai
hujan-hujan tak apalah
aku juga suka berhujan-hujan
namun seragam sekolah masih di badan
sebelum melintas dari jalan beraspal
baru saja kaki mau melangkah
lewat jalan setapak jalan ke rumah
ibu penjual rujak memanggil
mungkin tak tega melihat anak sekecil aku kehujanan
dengan tas sekolah masih di gendongan
sebuah pisau di tangannya
menunjukku pada pohon pisang di tepi jalan
aku tebas selembar “terima kasih” ucapku
aku melangkah hati-hati
jalan setapak licin dan becek
tanah-tanah kecoklatan
sepatu lusuh yang kukenakan
kulepaskan saja
tanpa kaos kaki
hawa panas dan dingin menyapa
pada telapak kaki telanjangku
sesampainya di depan rumah
bapakku telah siap menjemput
juga dengan selembar daun pisang di atas kepala
namun aku telah sampai
aku pulang lebih awal
selembar daun pisang kulempar di halaman rumah

 

Posting Komentar

0 Komentar