Belajar Hitrogen dari Dua Penyanyi



“Kita terlalu lama diseragamkan hingga perbedaan sedikit saja yang kita lihat seolah tampak tak lazim dan aneh”

Media masa punya kriteria untuk menerima kiriman cerpen masuk ke redaksi. Salah syarat umum setiap redaksi tentu saja adalah menariknya cerita. Jika ada warna baru dalam cerpen yang dikirim, tentu pula itu jadi pertimbangan tersendiri.


Media masa sekaliber KOMPAS tentu tidak akan sembarangan menampilkan cerpen. Apalagi cerpen yang masuk ke ruang redaksi pastilah tidak sedikit jumlahnya. KOMPAS tentu akan memilih yang terbaik dan paling menarik untuk ditampilkan.

Cerpen KOMPAS 6 Desember 2015 lalu menampilkan cerpen berjudul DUA PENYANYI yang ditulis oleh penulis kawakan Budi Darma. Dosen Universitas Negeri Surabaya tersebut menceritakan kesamaan yang ada pada dua 6 orang dalam 2 keluarga. Bermula dari Latif Ariffin dan Latif Arifin yang lahir di tanggal yang sama, di rumah yang berbeda tapi sama-sama diyakini mampu melahirkan orang-orang hebat. Lalu salah satu dari mereka menikah dengan Latifa dan yang satunya menikah dengan Latifah. Tak ubahnya suami mereka, kedua perempuan tersebut ternyata juga lahir di waktu yang sama, dan di rumah sakit yang sama-sama diyakini mampu melahirkan orang-orang hebat. Lantas mereka memiliki anak yang sesungguhnya sudah sama-sama diniatkan untuk tidak dilahirkan di tempat kedua orang tua mereka lahir. Tapi apa mau dikata, akhirnya anak mereka pun lahir di tempat yang sama seperti lahirnya kedua orang tua mereka. Dan nama mereka pun sama, Sulaiman. Dua pasangan suami istri tersebut meninggal di waktu yang sama. Latif Ariffin meninggal kecelakaan di Labuh Raya 15 A, dan Latif Arifin di Labuh Raya 15 B. Istri mereka sama-sama kaget dan meninggal di waktu yang sama.

Di akhir cerita, duo sulaiman tersebut sama-sama menjadi penyanyi yang buta dan mati di saat sama.

Kesamaan dalam kehidupan adalah sesuatu yang menarik karena tidak lumrah dan tak lazim. Sekali lagi, pilihan redaksi tentulah tidak sembarangan.

Dengan cerita tersebut, kita bisa belajar hitrogen dan memaknai perbedaan sebagai suatu hal yang umum dan wajar. Perbedaan adalah identitas kehidupan. Menjadi tidak lumrah ketika segala hal terjadi sama persis. Kesamaan yang mutlak adalah sesuatu yang tak lazim dan aneh.

Artinya bahwa memang seperti inilah kehidupan dengan segala warnanya. Jika kita memilih antipati dan apatis terhadap ketidaksamaan, sesungguhnya kita belum menyelami samudera hakikat kehidupan. Sekali lagi, perbedaan adalah identitas kehidupan. Selagi masih ada kehidupan, selama itu pula perbedaan akan terus ada. Dan kesamaan mutlak adalah sesuatu yang tidak lumrah.

 Lantas untuk apa kita menarik urat leher dan mengencangkannya hanya demi sebuah perbedaan yang hakikatnya biasa saja?
Salam


Posting Komentar

0 Komentar