Akting Tak Tuntas


"Sudah terlalu banyak akting yang tak tuntas" 


Penat menjalar demikian mudah. Aku rebahkan tubuhku.

Sudah berapa lama waktu berjalan dan kamu hanya melangkah dengan kebohongan. Aku seperti keledai. Berjalan di bawah beban yang kau pasang. Hanya menunggu waktu, sampai aku lemah dan tak mampu lagi melangkah. Lantas kau pergi dan membiarkan beban ini tetap di sini.

Seharusnya kau katakan saja dari awal. Dan aku tak perlu membuang banyak waktu untuk mencurahkan banyak hal untukmu. Aku lelah!

"Sudah terlalu banyak akting yang tak tuntas"

Tapi masih saja aku biarkan rasa percaya ini bersemayam. Berharap, esok hari matahari menghangatkan otakmu dan sadar dengan apa yang kamu lakukan. Masih saja harapan itu aku ruangkan. Hingga pada batas akhir yang tidak lagi ada jalan keluar, selain melemparkanmu.

Aku lebih bahagia jika bulu musangmu kau pasang. Maka akan aku persiapkan kuda-kuda terkuat untuk berdiri tegap dengan seranganmu yang bisa saja tiba tiba. Daripada kau menjadi ayam, yang aku beri makan tiap hari, tapi tiba tiba, kau menyerangku saat lengah.

Dan saat kau tersudut seperti sekarang, tak akan pilihan lain bagimu selain meratap dan berharap ada orang yang akan meralakan tangan yang dulu kau lukai untuk menjulurkannya padamu.

Kasihanilah dirimu sendiri.

Kau yang membuatnya sedemikian rumit untuk kau jalani. Jika esok hari gelap yang kau pandang, kabut asap masa depan, nikmatilah. Sebab benih itu pula yang tebar.
****

"Terilhami dari cerita kaum munafik di jaman nabi yang "menggemaskan".

Posting Komentar

0 Komentar